Paper Outsourcing

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Persaingan dalam dunia bisnis serta pasar global yang kompetitif diikuti dengan tingginya kebutuhan Teknologi Informasi serta iklim ekonomi yang saat ini tidak menentu menuntut perusahaan-perusahaan harus melakukan effisiensi dan meningkatkan produktivitas. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mempekerjakan tenaga kerja seminimal mungkin untuk dapat memberi kontribusi maksimal sesuai sasaran perusahaan. Untuk itu perusahaan berupaya fokus menangani pekerjaan yang menjadi bisnis inti (core business).

Efisiensi biaya dalam berbagai komponen pengeluaran keuangan perusahaan merupakan salah satu cara untuk dapat memenangkan persaingan. Kecenderungan yang terjadi adalah bahwa pengeluaran untuk pembiayaaan SDM perusahaan memakan porsi yang cukup besar dalam anggaran keuangan perusahaan. Solusi yang ditawarkan salah satunya dengan menggunakan outsourcing dan implementasi outsourcing dapat diterapkan mulai dari hal-hal yang sederhana seperti pengelolaan cleaning service sampai pada level yang rumit yaitu pengelolaan perusahaan. Outsourcing harus dipandang secara jangka panjang, karena perusahaan pasti akan mengeluarkan dana lebih sebagai management fee perusahaan outsourcing, memikirkan mengenai pengembangan karir karyawan, efisiensi dalam bidang tenaga kerja, organisasi, benefit dan lainnya. Masalahnya adalah bahwa kadang-kadang kemampuan in-house perusahaan tidak bisa mengakomodir pencapaian tersebut, sehingga perlu untuk melakukan outsourcing pada beberapa proses atau layanan IT.

Jika kita melihat perkembangan outsourcing di Indonesia, saat ini masuk dalam posisi kelima setelah China, India, Malaysia, dan Thailand. Dari posisi itu, bisa dilihat bahwa sebenarnya dari segi SDM, kita masih cukup diperhitungkan, karena menduduki level 12 dunia. Sedangkan dari environment (iklim keusahaan), Indonesia menempati urutan yang sangat rendah, karena tingginya tingkat korupsi (nomer 3 dunia) dan tingginya juga tingkat pembajakan di Indonesia (Menurut Djarot Subiantoro, Pimpinan ASPILUKI, tingkat pembajakan di Indonesia masih berkisar antara 60 sampai 80%).

Melihat perkembangan outsourcing di Indonesia seperti ini, akan muncul banyak sekali plus minusnya. Nilai plusnya adalah bahwa Indonesia punya peluang besar untuk menjadi Negara penyedia IT (seperti yang dilakukan India dan China sekarang), sehingga ketertarikan untuk mempelajari IT dan bekerja di dunia IT akan semakin besar. Sedangkan nilai minusnya adalah kalau suatu saat nanti Negara-negara di dunia mengalihkan proyek perangkat lunaknya ke Indonesia, maka dikhawatirkan ketertarikan para provider software Indonesia akan beralih dari penyediaan IT untuk kepentingan dalam negeri ke penyediaan IT untuk kepentingan outsourcer luar negeri (karena pasti nilai proyek dari luar negeri jauh lebih menggiurkan daripada nilai proyek dalam negeri). Efek buruk dari hal ini adalah ekspor produk IT yang tinggi, tapi IT dalam negeri terbengkalai.

Dari penjelasan diatas, memang IT saat ini dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan dalam mengatasi permasalahan yang ada. Tetapi memang masih memerlukan SDM yang tepat sehingga IT tersebut dapat berjalan sesuai dengan kebutuhan. Apakah Outsourcing adalah jawaban dari perusahaan? Paper ini akan memaparkan keuntungan dan kelemahan dari pengembangan SIstem Informasi dengan menggunakan Outsourcing.

1.2 Tujuan Penulisan

Pengembangan Sistem Informasi di Indonesia semakin dibutuhkan baik untuk kepentingan perusahaan maupun untuk kepentingan Negara. Tujuan paper ini akan memaparkan keuntungan dan kelemahan dari pengembangan Sistem Informasi dengan menggunakan Outsourcing. Dengan outsourcing ini diharapkan kebutuhan SDM dalam mengembangkan sistem informasi sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

1.3 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat penulisan paper ini adalah:

  • Bagi Perusahaan

Penulisan paper ini akan bermanfaat untuk mengetahui keuntungan dan kelemahan outsourcing dalam pengembangan sistem informasi sehingga perusahaan tidak salah dalam memilih vendor.

  • Bagi Penulis

Memberikan manfaat dari segi informasi dan dapat menambah ilmu sehingga dapat diaplikasikan kepada perusahaan.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Outsourcing

Outsourcing berasal dari bahasa Inggris yang berarti “alih daya”. Outsourcing mempunyai nama lain yaitu “contracting out” merupakan sebuah pemindahan operasi dari satu perusahaan ke tempat lain. Hal ini biasanya dilakukan untuk memperkecil biaya produksi atau untuk memusatkan perhatian kepada hal lain. Di negara-negara maju seperti Amerika & Eropa, pemanfaatan Outsourcing sudah sedemikian mengglobal sehingga menjadi sarana perusahaan untuk lebih berkonsentrasi pada core businessnya sehingga lebih fokus pada keunggulan produk servisnya.

Secara umum outsourcing diartikan sebagai pemindahan atau pendelegasian beberapa proses bisnis kepada suatu badan penyelia jasa. Dimana badan penyelia jasa tersebut melakukan proses administrasi dan manajemen berdasarkan definisi serta criteria yang telah disepakati. Outsourcing hadir karena adanya keinginan dari perusahaan (perusahaan pengguna / pemesan – user/principal) untuk menyerahkan sebagian kegiatan perusahaan kepada pihak lain (perusahaan outsourcing) agar ia dapat berkonsentrasi penuh pada proses bisnis perusahaan (core business) Biar lebih kompetitif tujuannya. Karena itu, pekerjaan yang di-outsourcing-kan bukanlah pekerjaan yang berhubungan langsung dengan inti bisnis perusahaan, melainkan pekerjaan penunjang (staff level ke bawah), meski terkadang ada juga posisi manajerial yang di-outsourcing-kan, namun tetap saja hanya untuk pekerjaan dalam tenggat waktu tertentu seperti proyek.

Penggunaan outsourcing seringkali digunakan sebagai strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada core business-nya. Namun, pada prakteknya outsourcing didorong oleh keinginan perusahaan untuk menekan cost hingga serendah-rendahnya dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda walaupun seringkali melanggar etika bisnis. Perusahaan yang menggunakan tenaga outsource diketahui 4 alasan menggunakan outsourcing, yaitu Efektifitas manpower, tidak perlu mengembangkan SDM untuk pekerjaan yang bukan utama, memberdayakan anak perusahaan dan dealing with unpredicted business condition.

2.2 Masalah Umum Yang Terjadi Dalam Penggunaan Outsourcing

Adapun beberapa masalah umum yang terjadi dalam penggunaan Outsourcing adalah:

  • Penentuan partner outsourcing. Hal ini menjadi sangat krusial karena partner outsourcing harus mengetahui apa yang menjadi kebutuhan perusahaan serta menjaga hubungan baik dengan partner outsourcing.
  • Perusahaan outsourcing harus berbadan hukum. Hal ini bertujuan untuk melindungi hak-hak tenaga outsource, sehingga mereka memiliki kepastian hukum.
  • Pelanggaran ketentuan outsourcing. Demi mengurangi biaya produksi, perusahaan terkadang melanggar ketentuan-ketentuan yang berlaku.
  • Perusahan outsourcing memotong gaji tenaga kerja tanpa ada batasan sehingga, yang mereka terima, berkurang lebih banyak.

2.3 Tujuan dan Resiko Outsourcing

Adapun tujuan dari Outsourcing adalah:

  • Mempercepat keuntungan reengineering
  • Mendapatkan akses pada kemampuan kelas dunia
  • Memperoleh suntikan kas
  • Membebaskan sumber daya untuk kepentingan lain
  • Membebaskan diri dari fungsi yang sulit dikelola atau dikendalikan
  • Memperbaiki fokus perusahaan
  • Memperoleh dana kapital
  • Mengurangi biaya operasi
  • Mengurangi resiko usaha
  • Memperoleh sumber daya yang tidak dimiliki didalam perusahaan

Sedangkan Resiko dari Outsourcing adalah:

  • Keuntungan tidak diperoleh secara cepat, tidak diperoleh dalam jumlah yang cukup signifikan
  • Akses tidak diperoleh karena pemberi jasa tidak menunjukkan kinerja perusahaan kelas dunia
  • Suntikan kas ternyata seret atau tidak diperoleh sama sekali karena perusahaan pemberi jasa mengalami kesulitan keuangan
  • Sumber daya mungkin harus ditransfer ke atau diperlukan oleh perusahaan pemberi jasa,sehingga tetap kekurangan sumber daya
  • Perusahaan mungkin tidak dapat bebas seluruhnya dari kesulitan yang sebetulnya ingin dihindari
  • Karena berbagai tujuan yang ingin dicapai, tidak sepenuhnya didapat, maka fokus core business tidak tercapai
  • Karena perusahaan pemberi jasa mengalami kesulitan keuangan,maka mungkin tambahan dana tidak